Archive

Posts Tagged ‘paroki st. kristoforus jakarta’

Pastor Purwanta MSC : Sukacita Berasal dari Iman dan Berbagi

December 28, 2010 Leave a comment

This slideshow requires JavaScript.

This slideshow requires JavaScript.

Umat Wilayah Grogol I (Santo Johanes Penginjil) merayakan pesta pelindung wilayah sekaligus Pesta Natal 2010 Wilayah Grogol I, Senin (27/12/10) kemarin, berlangsung di ruangan pertemuan Gereja Stasi Santo Polikarpus Grogol baru, yang sudah 80 persen proses pembangunannya.

Pesta pelindung dan pesta natal 2010 itu diawali dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Kepala Paroki Santo Kristoforus Yohanes Purwanta MSC. Dikatakan Pastor  Purwanta MSC, sukacita kita berasal dari iman dan berbagi. “Iman dan berbagi merupakan dua pengalaman kita yang saling melengkapi untuk mendapatkan sukacita harian di mana pun kita berada,” ujar Pastor Purwanta MSC, dalam homili tanpa teks di ruangan pertemuan lantai empat gedung baru Gereja Stasi Santo Polikarpus Grogol.

Pastor Purwanta MSC mengemukakan empat hal mengapa sukacita berasal dari iman dan berbagi dalam konteks keteladanan Santo Johanes Penginjil. Pertama, Santo Johanes Penginjil mewartakan iman akan Bapa, Putera dan Roh Kudus  berdasarkan apa yang diimani, dialami, dirasakan, dan dipikirkannya dalam kebersamaan dengan orang-orang di sekitar kehidupan Yesus. Kedua,  sharing model Santo Johanes Penginjil berisi pertumbuhan dan dinamika iman dalam peristiwa kehidupan di dalam Yesus. Sharing itu bertujuan untuk membantu orang lain untuk percaya kepada Yesus. Ketiga, sharing menunjukkan pewartaan iman merupakan kebenaran kolektif bukan pribadi. Ini merupakan cikal bakal keberadaan hirarki dalam Gereja Katolik. Keempat, persekutuan di lingkungan apapun termasuk di Wilayah Grogol I adalah kesempatan bagi setiap umat untuk menemukan, menghayati, dan menghidupi imannya dengan orang lain.

Acara pesta pelindung dan pesta natal wilayah itu dihadiri juga oleh Wakil Ketua Dewan Paroki Santo Kristoforus Bapak Stefanus Gunadi. ”Kasih dan persaudaraan di dalam lingkungan itu selalu mendorong orang untuk hadir dan berbagi dengan orang lain di dalam lingkungannya hanya kalau setiap anggota lingkungan merasa mereka adalah  anggota keluarga dalam persekutuan di Wilayah Grogol I,” ujar Pak Stef dalam sambutan singkatnya sebelum resepsi bersama. Sedangkan Ketua Wilayah Grogol I Bapak Benedictus Rudy Suryadhi, dalam pembukaan acara, menyampaikan bahwa pesta pelindung dan natal wilayah kali ini merupakan bentuk syukur atas persaudaraan umat wilayah. ”Persaudaraan kami berasal dari sukacita keteladanan Santo Johanes Penginjil dan Iman akan Yesus yang senantiasa hadir di tengah kita,” ujar Pak Rudy, yang menjadi anggota paduan suara wilayah pada saat itu.

Acara ini juga dihadiri oleh Ketua Dewan Stasi Ibu Martha Goenawan dan Ketua Wilayah Grogol II Bapak Hugo Hadi Pratikno. Para ketua lingkungan dari Wilayah Grogol I yang hadir, yaitu Ketua Lingkungan Susilo Bapak Simon Adiwidjaja Hardja, Ketua Lingkungan Muwardi Bapak Itok Isnaeni, Ketua Lingkungan Rawa Bahagia Ibu Catharina Lenny, dan Ketua Lingkungan Susilo II Ibu Caecilia Diah Resijati. Sedangkan para ketua lingkungan dari Wilayah Grogol II yang hadir antara lain Ketua Lingkungan Makaliwe II Bapak Indro Sutikno, Ketua Lingkungan Makaliwe III Bapak Laurentius Stefano Nugraha, Ketua Lingkungan Nurdin Ibu Fransisca Sri Mulyani. (Lelo Yosep)

Menuju Well Organized Paroki

August 21, 2010 2 comments

Pastor Paroki St. Kristoforus (kika): P. Nelles, MSC; P. Yosep, MSC; P. Jonas, MSC; dan P. Purwanta, MSC

Wakil Ketua Dewan Paroki St. Kristoforus Bapak Stefanus Gunadi

Momentum rapat Dewan Paroki Pleno (DPP) Santo Kristoforus Jakarta di bulan Agustus 2010 (20/08), seolah-olah memaknai kemerdekaan NKRI ke-65. Sebab, tema sentralnya tentang reksa pastoral berbasis manajemen data dan informasi umat terintegrasi agar program, penganggaran, dan prosedur kerja pastoral berlangsung efisien dan efektif.  Sebab, keragaman pengetahuan dan potensi umat paroki merupakan aset yang sangat berharga dalam upaya meningkatkan keunggulan dan kualitas komunitas basis teritorial dan kategorialnya. Tema rapat ini merupakan oleh-oleh dari Temu Pastoral (Tepas) 2010 Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), yang diikuti oleh Ketua Umum Dewan Paroki Santo Kristoforus Pastor Yohanes Purwanta, MSC beserta tiga Ketua Dewan Paroki Santo Kristoforus lainnya, yaitu Pastor Jonas Tandayu, MSC, Pastor Cornelius Jamlean, MSC dan Pastor Yosep Ohoiledwarin, MSC.

Berdasarkan temuan Tepas 2010 ini, para Ketua Dewan Paroki Santo Kristoforus menilai bahwa selama ini ada disintegrasi reksa pastoral pemberdayaan komunitas basis teritorial dan kategorial di wilayah paroki. Inilah alasan mengapa agenda utama rapat DPP kali ini merupakan kesempatan konsolidasi awal untuk pembangunan manajemen data dan informasi umat terintegrasi.

Disintegrasi reksa pastoral tadi berhulu pada mismanajemen data dan informasi umat. Isyarat itu setidaknya tampak dari rekomendasi pokok, yang dihasilkan dalam rapat ini, yaitu pembentukan team khusus, yang bertugas mengawaki pembangunan manajemen data dan informasi umat terintegrasi dengan pendekatan dari umat, oleh umat dan untuk umat.  Team khusus ini mula-mula akan menuntaskan komputerarisi kartu keluarga umat sesuai format dari KAJ. Ironisnya, upaya komputerisasi serupa sesungguhnya sudah dirintis sejak tahun 2006 oleh Wakil Ketua Dewan Paroki St. Kristoforus Bapak Stefanus Gunadi. Tetapi, upaya itu berhasil hanya separuh jumlah lingkungan yang ada. Kendala ditemukan pada ketidaksepahaman berbagai pihak tentang manajemen data umat bagi aktivitas pastoral. Masalah penting yang berkaitan dengan manajemen data kartu keluarga saat itu adalah aspek kelengkapan identitas data, yaitu semua informasi yang menyangkut komponen data umat itu.

Kontekstualitas Pastoral Berbasis Data

Habitus baru sebagai Arah Dasar Pastoral KAJ menuntut manajemen data dan informasi terintegrasi agar program, penganggaran dan prosedur pastoral di paroki sesuai tanda-tanda  sikon sosial, budaya, ekonomi dan politik bangsa yang amat dinamis sejak reformasi 1998. Selain itu, tata kelola paroki dengan prinsip good governance, yang berpusat di sekretariat paroki dan berhubungan dengan semua level kepengurusan dewan paroki (komisariat, lingkungan, dan wilayah) selalu mengandaikan ketersediaan data dan informasi umat itu sendiri.

Oleh karena itu, rapat DPP ini pun sepakat bahwa tata kelola reksa pastoral paroki berdasarkan manajemen data dan informasi tentang umat merupakan kerangka penanganan permasalahan pemberdayaan komunitas basis selama ini, karena upaya perumusan program, anggaran dan prosedur  implementasi pemberdayaan komunitas basis yang akan datang benar-benar sesuai dengan variasi kondisi territorial dan kategorial yang ada.

Knowledge Sharing Culture sebagai Karakter

Keterbatasan kompetensi dalam manajemen data dan informasi terbukti memberikan kendala tersendiri untuk mewujudkan good governance dalam reksa pastoral paroki.  Hal ini juga menyebabkan pengkondisian habitus baru tidak sesuai dengan dinamika kebutuhan komunitas basis teritorial dan kategorial.

Di lain pihak, berbagai organisasi, terutama korporasi yang profit oriented, selalu menciptakan habitus baru knowledge sharing culture demi meningkatkan kinerja dan reputasi untuk membangun loyalitas pelanggannya.  Knowledge sharing culture kemudian merupakan karakter unik organisasi di benak para pelanggannya.

Sehubungan dengan knowledge sharing culture, pengurus dewan paroki sangat berkepentingan untuk memilih dan mewujudkannya di lingkup teritorial dan kategorial. Sebab, sekali lagi dikatakan bahwa manajemen data dan informasi terintegrasi merupakan “garansi” terciptanya good governance dalam tata kelola paroki. Good governance, misalnya, berdampak langsung pada operasional paroki setiap hari, yaitu transparansi sistem administrasi sekretariat paroki dan akuntabilitas laporan keuangannya.

Suka tidak suka, semua pengurus dewan paroki perlu menerima bahwa kendala knowledge sharing culture, misalnya, kesediaan umat untuk memberikan data yang valid juga tak lepas dari persepsi yang terbangun pada kinerja sekretariat paroki dalam hal manajemen data dan informasi yang berhubungan dengan reksa pastoral paroki itu sendiri. Itulah mengapa, seringkali dewan paroki menemukan banyak keluarga yang memiliki sikap berbeda saat mengisi kartu keluarga untuk diserahkan kepada pengurus lingkungan masing-masing atau kepada sekretariat paroki. Oleh karena itu, rapat DPP perlu secara aktif meyakinkan kepada anggota DPP dan anggota kepengurusan masing-masing  tentang arti strategis knowledge sharing culture ini.

Optimisme tentang manajemen data dan informasi terintegrasi, habitus baru, dan knowledge sharing culture dalam konteks paroki mengandaikan kapasitas manajerial dan leadership para ketua dewan paroki dalam setiap program, penganggaran dan prosedur reksa pastoralnya. Jadi, para ketua dewan paroki pun jangan sampai ketinggalan momentum untuk belajar dan terampil tentang manajemen apa saja.  (Lelo Yosep)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.