Home > Humaniora > Maria dan Kegerahan Jakarta

Maria dan Kegerahan Jakarta

Peserta Karoling Buat Memori Bersama

Peserta Karoling Santai Sejenak

Para Lektor-Lektris Paroki Santo Kristoforus, Jakarta, berziarah keliling di 9 Gua Maria (GM) paroki-paroki se-Jakarta (28/0510). Peziarahan berawal dari GM Paroki St. Kristoforus Grogol, Jakbar.  Selanjutnya berturut-turut ke GM Paroki St. Stefanus Cilandak, Jaksel; GM Paroki Keluarga Kudus Pasar Minggu, Jaksel; GM Paroki St. Aloysius Gonzaga Cijantung, Jaktim; GM Paroki St. Servatius Kampung Sawah, Jaktim; GM Paroki St. Ana Duren Sawit, Jaktim;  GM Paroki Keluarga Kudus Rawamangun, Jaktim;  GM Paroki St. Yosef Matraman, Jaktim;  dan GM Paroki  St. Perawan Maria Diangkat ke Surga Katedral, Jakpus.

Ada 226 peziarah. Mereka berasal dari umat Paroki St. Kristoforus dan beberapa paroki lain. Pastor Yosep Ohoiledwarin, MSC menjadi pendamping rohani. Inspirasi Karoling ini merangkai tujuh peristiwa besar seputar Maria, yaitu Ramalan Simeon : Pedang Duka, Pelarian ke Tanah Mesir, Kegelisahan Maria, Menatap Derita Putra, Di Bawah Kaki Salib, Dalam Pangkuan Bunda, Duka Cita Bunda.

Semua tema bermaksud merangsang para peziarah agar menemukan kembali kekuatan diri sendiri dengan mempelajarai bagaimana Maria bersikap dan bertindak menghadapi aneka situasi dan kondisi dinamika Keluarga Kudus Nazaret dan persahabatan dengan  12 rasul dan 72 murid. Semangat Maria bersumber pada iman akan Allah. Iman itu terlihat dalam perbuatan kasih di lingkungannya tadi.

Dinamika Jakarta yang penuh intrik dan kompetisi mempengaruhi sikap dan tindakan orang atas keluarga dan persahabatannya. Kerap berbagai ketegangan dari intrik dan kompetisi itu justru membuat orang patah semangat dan kehilangan orientasi. Tetapi, pengalaman Maria malah memberi kesaksian lain.  Aneka ketegangan itu justru membuat cinta tumbuh dan mekar karena percaya akan penyelenggaran Allah. Allah yang hadir dalam semua orang sekitar. Oleh karena itu, biarlah berbagai pengalaman yang saling kontras seperti keharmonisan dan kekacauan, kepercayaan dan kecurigaan, keyakinan dan kebimbangan, kehangatan dan kemarahan, kepastian dan kecemasan, kesederhanaan dan kemewahan, kenyamanan dan keterancaman, keterbatasan dan kelimpahan, suasana privat dan hidup sosial, dan berbagai harapan akan semua kemungkinan, menjadi laboratorium spiritualitas hidup kita sendiri. Sebab, spiritualitas hidup  yang besar tak pernah berlangsung dalam persoalan hidup kita yang sepi. Tetapi, ia selalu terbentuk dalam realitas harian dengan segala ruwet repotnya struktur sosial, ekonomi dan politis seperti kota Jakarta. (Lelo Yosep dan  Nike Soethiono)

  1. heru
    August 21, 2010 at 7:26 am

    it’s a nice article to reflect the spiritual journey

  2. Roy
    September 2, 2010 at 4:54 pm

    Cewe2nya cantik… bisa bantu list no hp kah????

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: