Home > Humaniora > Keluarga Matius Sanusi Satyananda dan Gereja Stasi St. Polikarpus Grogol

Keluarga Matius Sanusi Satyananda dan Gereja Stasi St. Polikarpus Grogol

This slideshow requires JavaScript.

Pasangan Matius Sanusi Satyananda dan Monica Tuti Sutedja menikah dalam adat Konghucu pada tahun 1965. Mereka dianugerahi empat orang anak : Sudirman Satyananda, Mimi Sugiharti Satyananda, Nursalit Satyananda, dan Sunarto Satyananda. Pasangan ini dibaptis pada tahun 1984 oleh Pastor Titus Rahail, MSC di Gereja St. Kristoforus. Matius Sanusi Satyananda sendiri termasuk seorang aktivis sejak mahasiswa. Aktivitas itulah yang membentuk karakternya untuk bergaul leluasa di masyarakat. Menurutnya, semua agama itu baik, tergantung orang yang menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai pendidikan yang masih sangat terasa dalam sekeluarga, menurut Ibu Sanusi, adalah bagaimana anak-anak diajarkan dan dibiasakan untuk bergaul dengan semua orang di mana pun mereka berada.

Pergumulan iman pasangan ini merupakan cikal bakal lahirnya tanah untuk Gereja Stasi St. Polikarpus di Jalan Nurdin III/3, Grogol-Jakarta Barat. Keluarga Matius Sanusi Satyananda menyerahkan tanah itu pada bulan Juli 2002 kepada Paroki Santo Kristoforus-Grogol Jakarta Barat melalui Pastor Arcadius, MSC, lalu  pada bulan Oktober 2002 Matius Sanusi Satyananda meninggal setelah niat dan impiannya tercapai dan meninggalkan pengalaman iman untuk semua orang.

”Diawali saat salah satu putra kami menderita sakit di dada sebelah kiri, terasa seperti sakit jantung,” kenang Ibu Sanusi. Kami semua terlibat mengupayakan pengobatan penyembuhannya. Tak puas dengan check-up di Indonesia, kami mencari diagnosa di luar negeri. Di luar negeri pun para dokter tidak menemukan kelainan jantung pada putra kami.  Kami putus asa. Tuhan membuka pikiran dan hati kami orangtuanya. Tuhanlah pengharapan terakhir.

Pak Matius Sanusi mempunyai niat agar kelak, kalau punya tanah cukup luas akan disumbangkan untuk pembangunan Gereja.  Niat itu semakin kuat ketika Pak Sanusi menemukan sebidang tanah di Jalan Nurdin III/3 Grogol-Jakarta Barat. “Ini cocok untuk dibangun Gereja kecil khusus para lansia yang tinggal di daerah Grogol supaya mereka tidak kejauhan ke Gereja St. Kristoforus,” ujar Pak Matius Sanusi kepada saya suatu ketika.

Sebenarnya kami berniat menyumbangkan tanah itu kepada Gereja St. Kristoforus sebagian, bukan sepenuhnya. Tanpa kami sadari, pada saat yang sama justru anak kami mulai menderita sakit dada sebelah kiri. Sejenak kami tertegun dan putus asa, memikirkan bagaimana mungkin kami mendapat cobaan di saat kami memberikan sumbangan sebidang tanah untuk pembangunan Gereja? Tapi, dalam keputusasaan inilah kami pasrah kepada Tuhan.  Tanpa sepengetahuan anak-anak kami, hingga saat ini, saya dan bapak  bernazar kepada Tuhan dengan penuh iman dan harapan. “Tuhan, kami akan menyerahkan tanah di Jalan Nurdin III/3 dengan gratis untuk Gereja. Kalau Tuhan berkenan, kami hanya minta agar Tuhan menunjukkan jalan kepada siapa anak kami dapat berobat agar dia dapat sembuh seperti sedia kala.”

Pak Sanusia langsung menemui Pastor Arcadius Setitit, MSC untuk menyampaikan niat keluarga kami. “Kita akan membangun gedung Gereja di Jl. Nurdin III/3 dan sementara ini kita nanti akan membuat misa mingguan dan kebaktian di sana, “ kata Pastor Arcadius dengan gembira dan bersemangat. ”Saya dan Pak Sunusi amat bahagia dan gembira saat mendengar sambutan dan janji Pastor Arcadius soal Gereja itu,” kata Ibu Sanusi.

Di situasi lain, mereka tetap berupaya membawa anak mereka ke dokter. Dokter A merekomendasikan anak mereka berobat ke dokter B. Dokter B menyarankan pergi ke dokter C. Dan melalui Dokter C inilah terakhir yang menyembuhkan anak mereka.  Melalui proses itu mereka melihat bagaimana Tuhan telah menunjukkan jalan untuk menyembuhkan anak laki-laki  mereka dan hal ini membuat keluarga mereka menjadi sangat gembira. Melaui tiga dokter yang berbeda-beda telentanya, Tuhan menunjukan jalan bagaimana Tuhan dapat memnyembuhkan dengan perantara orang yang telah ditentukan-Nya. Pengalaman kesembuhan itu terasa lebih besar daripada apa yang mereka persembahkan kepada Tuhan. Kesembuhan itu pulalah yang kembali membawa keceriaan di tengah keluarga besar Bapak Matius Sanusi Satyananda.

Semoga pengalaman keluarga Bapak Matius Sanusi Satyananda menjadi inspirasi bagi banyak orang dan menguatkan iman umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta, khususnya umat Katolik di Paroki St. Kristoforus, dan menggugah hati kita untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan Gereja Stasi St. Polikarpus, yang telah dirintis oleh keluarga Matius Sanusi Satyananda. Mari kita bahu membahu sebagai keluarga besar Paroki St. Kristoforus untuk mewujudkan rumah Tuhan dan menjadikan semua aktivitas di Paroki St. Kristoforus sebagai acara pertemuan dan persaudaraan keluarga besar kita. (Lelo Yosep/Johanes Davis/Stefanus Gunadi)

Categories: Humaniora
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: