Home > Humaniora, Uncategorized > Berani Menjadi Lingkungan Progresif

Berani Menjadi Lingkungan Progresif

This slideshow requires JavaScript.

DP/PGDP Paroki Santo Kristoforus menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan (Diklat) bagi semua pengurus lingkungan periode 2011-2014. Gelombang pertama  adalah peserta dari Wilayah Tanjung Duren A (Santo Nikolaus) dan Wilayah Tanjung Duren B (Santo Alfonsus Maria de Liguori). Pelaksanaan Diklat berlangsung di Wisma Puspanita, Bogor, Jawa Barat, 12-13 Maret 2011. Semua peserta berusia paruh baya ke atas. Tiga topik pokok diklat itu adalah Spritualitas Kristiani dalam Karya dan Pelayanan, Dinamika Komunitas Basis (Kombas),  dan Pastoral Berbasis Data.

Pembukaan kali ini oleh calon Wakil Ketua DP/PGDP 2011-2014 Dionisius Beno Yasin. Spiritualitas Kristiani dalam Karya dan Pelayanan dibawakan oleh Pastor Joseph Ohoiledwarin MSC. Dinamika Kombas Teritorial dihadirkan oleh Tim Kombas Paroki Santo Kristoforus, yang dipimpin oleh Liria Tjahaja. Lalu, Pastoral Berbasis Data disajikan oleh Calon Sekretaris I DP/PGDP 2011-2014 Cosmas Christanmas.

Pengurus Lingkungan : Urat Nadi Gereja

Pastor Joseph MSC, dalam presentasinya, bertolak dari visi dan misi Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), untuk menemukan benang merah spiritualitas dan realitas dalam lingkungan masing-masing. Kesetiaan, menurut Pastor Joseph MSC, adalah inti visi dan misi KAJ di  kota metropolitan dan multikultural seperti Jakarta. Kesetiaan sebagai murid Yesus dan kesetiaan sebagai utusan-Nya.  ”Pengurus lingkungan bertanggung jawab agar warganya tetap setia sebagai murid Yesus dan sebagai saksi Kristus dalam tugas dan karyanya masing-masing,” tegas pastor asal Ambon ini.  ”Sebab, kehadiran pengurus lingkungan merupakan makna kehadiran Gereja di antara umat dalam masyarakat,” lanjut Pastor Joseph MSC, yang sehari-harinya sibuk sebagai Ketua Yayasan Diannanda yang mengelola Persekolahan Santo Kristoforus I-II.

Spritualitas pelayanan pengurus lingkungan bersumber pada makna pengorbanan Kristus. Setiap pengorbanan Kristus menciptakan pembebasan dalam masyarakat-Nya. Umat Kristiani bisa merasakan dan menimba kekuatan pengorban itu dalam Ekaristi. ”Liturgi Ekaristi adalah Liturgi Kehidupan,” ujar Pastor Joseph bersemangat. ”Kasih yang tulus selalu membebaskan orang lain dari ketakberdayaan. Itu kita temukan dalam Ekaristi dan dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.

Oleh karena itu, kepemimpinan pengurus lingkungan mempunyai tugas pemberdayaan umat. Efisiensi dan efektivitas pemberdayaan umat  mengandaikan keakuratan data dari umat, oleh umat dan untuk umat.  ”Data merupakan fondasi pemberdayaan berkelanjutan dari umat, oleh umat, dan untuk umat, karena data selalu berkaitan dengan model perumusan strategi pastoral dan implementasinya dalam aktivitas sehari-hari,” tegas Cosmas, yang bertahun-tahun berkecimpung dalam pendataan sebuah perusahaan swasta.

Empat faktor Kombas

Kombas merupakan infrastruktur  bagi karya pengurus lingkungan. Sebab, pengurus lingkungan berfungsi sebagai katalisator untuk mengembangkan iman, harapan dan pelayanan seluruh warga lingkungannya. Semakin kuat konsolidasi pengurus lingkungan, semakin nyata kehadiran kombas di tengah umat. Semakin aktif kombas di lingkungan, semakin nyata kesaksian lingkungan sebagai komunitas inklusif.

Melalui diskusi intensif peserta, Tim Kombas Paroki Santo Kristoforus menemukan sejumlah kendala dinamika kombas selama ini. Sejumlah masalah ini menciptakan gap antara apa yang diharapkan dan kejadian di lingkungan. Problem itu antara lain : sikap eksklusif pengurus lingkungan, amburadulnya pola pemberdayaan, kompleksitas pekerjaan warga lingkungan, keterbatasan waktu karena kesibukan, mismanajemen program paroki di lingkungan, dan lemahnya sistem pemberdayaan warga lingkungan.

Ditemukan pula problem klasik di Wilayah Tanjung Duren A dan Wilayah Tanjung Duren B, yaitu minimnya partisipasi kaum ayah dan rendahnya minat kaum muda dalam berbagai aktivitas lingkungan. Ada beberapa solusi melalui diskusi.

Pemberdayaan mudika membutuhkah antara lain : diferensiasi program bagi SMP-SMA-Mahasiswa, menciptakan program berkelanjutan, dan program kegiatan dikemas dalam paket edutainment. Sedangkan pemberdayaan kaum ayah bisa melalui dialog berkelanjutan dan kepengurusan dalam berbagai acara di lingkungan.

Akselerasi Kombas, menurut Liria Tjahaja, tergantung pada empat faktor fundamental. ”Empat faktor kombas modern seperti di Jakarta ini adalah kesetaraan, dialog, partisipasi, dan komitmen untuk bertanggung jawab,” tegas staf pengajar di Universitas Atma Jaya Jakarta ini.

Saling Pacu

Sinergi semua rencana dan aktivitas pastoral di lingkungan bersumber pada ketersediaan informasi dan data. Semakin akurat informasi dan data umat semakin sempit gap antara rencana dan problem lingkungan. Inilah yang melatarbelakangi mengapa data umat menciptakan dinamika dalam konteks tertentu. ”Kalau orangnya hidup, maka datanya juga dinamis,” ujar Cosmas bersemangat. ”Updating data warga mau tak mau harus berkelanjutan oleh sekretariat paroki dan pengurus lingkungan,” lanjutnya. Konsolidasi pendataan, menurut Cosmas, sesungguhnya terletak pada kerja sama pengurus lingkungan. ”Pengurus lingkungan merupakan urat nadi komunikasi antara sekretariat paroki dan warga paroki soal akurasi data umat,” ujarnya.

Jadi, pengurus lingkungan berfungsi sebagai falitator dan katalisator utama dalam rantai pelayanan Gereja  paroki kepada umatnya. Semakin progresif pengurus lingkungannya, semakin terintegrasi program pastoral parokinya. (Lelo Yosep)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: